Senin, 25 Februari 2013

tentang muda dan bijak

Menjadi tua itu sebuah kepastian.
Menikmati masa muda itu pilihan
Merasa awet muda itu keputusan

Memiliki banyak bini muda itu keterlaluan
Menikmati tanggal muda itu keceriaan karena baru gajian
Banyak beribadah selagi muda itu kemuliaan
Memahami kaum muda itu kebijakan

siapa yg menanam dia akan menuai hasil

Sepulang dari Jakarta, saya ambil motor beat merahku dari kantor di kawasan Gadobangkong Kabupaten Bandung Barat.  Perjalanan menuju rumah terasa lebih lengang karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.  Suasana kemacetan yang biasa ada saat itu terasa sepi.  Berkendaraan motor di saat sepi bawaannya ingin memacu lebih kencang, namun saya malah ingin menikmati malam itu dengan berkendaraan secara aman dan nyaman.  Kala asik menikmati jalan yang lengang, tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang pengendara motor yang memacu kencang kendaraannya.  Dengan gaya zigzag dia melesat lebih cepat melewati beberapa motor saja yang terlihat berlalu lalang di depan mesjid Agung Cimahi.  Dari kejauhan saya melihat seorang bapak tua menyebarang jalan, sekitar BCA raya barat.  Dari kejauhan pun saya lihat sepertinya sang bapak arahnya bersamaan dengan si pengendara motor yang melaju cepat dan zigzag tadi.  Kekhawatiran akan terjadinya tubrukan itu memang terbukti.  Sang bapak tua terjerembab ke aspal karena ditubruk oleh si pengendara motor.  Si pengendara motor hanya terlempar tapi motornya tetap bisa dia kendalikan.  Karena suasana sepi, si pengendara motor malah memacu motornya lebih cepat alias kabur.  Beberapa orang yang ada di sekitar jalan itu segera menolong si bapak, lalu saya yang tengah melaju berinisiatif untuk mengejar si pelaku tabrak lari itu.  Si pelaku dan motornya begitu cepat melaju, setelah tahu saya menyalakan klakson tanpa henti sambil terus mengejarnya.  Dia menjalankan kendaraan bagaikan dikejar setan, padahal saya kan manusia bukan setan.  Pastinya dia kabur karena ingin lari dari tanggung jawab.  Di belokan Cihanjuang dia sengaja membelokan motornya mungkin dia ingin sembunyi, dari kejauhan saya  tetap bisa melihatnya.  Terlihat dia mulai memperlambat laju motornya, posisi sudah makin dekat, entah karena nafsu atau kegirangan, lalu saya kembali membunyikan klakson mengejarnya.  Lalu apa yang terjadi, si pelaku tabrak lari itu tentu saja kaget dan kembali memacu motornya lebih cepat, malah lebih cepat dari sebelumnya.  Saya agak menyesal gagal mengejar si pelaku, karena di pertigaan jalan itu saya kehilangan jejak.  Saya kira membunyikan klakson adalah kekeliruan strategi, ini jadi pengalaman pribadi.  Namun di balik kejadian itu, saya peroleh beberapa hikmah.  Hikmah pertama bahwa bunyi klakson dan upaya pengejaran tidak akan mampu menyadarkan si pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, saya hanya bisa memberikan peringatan. Seperti halnya kita mengajak orang pada kebenaran, kita tidak bisa memaksa mereka, yang bisa kita lakukan adalah mengajaknya atau memberikannya peringatan.  Hikmah kedua adalah si pelaku tabrak lari meski bisa lepas dari kejaran saya, tapi tidak bisa lepas dari hukum alam atau sunnatulloh.  Siapapun yang berbuat pasti akan membuahkan hasil dari perbuatannya itu.  Hari ini bisa saja dia bebas dari segala tuntutan tapi di hari berikutnya buah perbuatannya akan segera mendatanginya.  Kecuali jika dia meminta maaf pada si korban dan mengganti rugi segala biaya yang harus dikeluarkan oleh si korban.  Siapa yang menanam dia akan menuai hasil, ingat selalu hal itu wahai pelaku tabrak lari.

Selasa, 12 Februari 2013

simply is the best

Di sebuah pom bensin di sekitar Cibeureum Cimahi, terlihat antrian motor akan mengisi premium.  Urusan antrian memang harus tertib, semua orang pun mematuhinya.  Selain tertib tentu saja prosesnya harus cepat sehingga kita tidak terlalu lama membuang waktu untuk antri membeli premium. Dari seringnya mengisi premium dari SPBU ke SPBU yang lain, saya sering memperhatikan beberapa karakter orang dalam membeli premium tersebut. Ada yang langsung membeli dengan nilai yang pas, misalnya sepuluh ribu, atau lima ribu.  Beberapa konsumen lain ada yang ingin diisi full saja tangki motornya.  Untuk yang membeli premium dengan nilai uang yang pas, tentu sangat simple karena membayar dengan uang pas atau kalau uangnya tidak pas maka uang kembaliannya pun tidak susah.  Yang agak rumit adalah jika mengisi dengan full tank lalu terlihat nilai uang di meteran SPBU tersebut nilainya tidak pas, sebagai contoh 11.555. Dengan nilai uang yang tidak pas tersebut otomatis petugas SPBU harus selalu menyediakan uang kecil, dan yang jadi titik kritis saya adalah bukan recehannya tapi itu butuh waktu yang lebih lama untuk memberikan uang kembalian itu pada si pembeli.  Dan kasus inilah yang saya alami pagi tadi di SPBU itu.  Antrian tersendat rupanya ada pembeli yang nunggu kembalian uang receh karena ternyata si petugas kehabisan uang receh tersebut.  Saya hanya berfikir kenapa orang itu tidak membeli saja dengan nilai yang pas, misal Rp.11.000 atau Rp.12.000 sekalian kan simpel sekali.  Malah ada yang karena kembalian uang receh tersebut kurang sedikit lalu marah sampai ada yang menulis di koran. Itulah dia setiap orang punya jalan berfikirnya masing-masing. Ada yang berfikir dan bertindak ribet namun ada pula yang ringan dan sederhana.  Jika para pengendara motor saat beli premium seperti itu semua, wah bisa lama kalau antri di SPBU, belum lagi ada beberapa orang yang minta bon pembelian, ini malah lebih lama lagi.
Anda yang membeli premium untuk motor anda dengan pola seperti itu, segeralah berfikir, bisa saja anda menzalimi orang lain karena menyia-nyiakan waktu orang lain meskipun mungkin hanya 1 menit.  Waktu 1 menit tentu sangat berharga apalagi di pagi hari banyak orang yang mengejar mesin absensi kantornya masing-masing.  Selain itu tentu saja pihak SPBU harus memberikan pelayanan prima, bukan hanya mulai dari nol meterannya tapi juga menyiapkan uang recehan apabila menghadapi orang yang membeli premium dengan jumlah uang yang tidak pas.
Dari kejadian itu salah satu hikmahnya adalah Simply is The Best.