Senin, 24 Desember 2012

Tempelkan impian anda sedekat 5 Cm

Ada satu alasan khusus kenapa saya putuskan untuk menonton film Indonesia 5Cm di bioskop.  Saya baca di sebuah kicauan twitter teman yang sudah menonton film itu bahwa tempel impian mu di depan kening sejauh 5cm.  Setelah sedikit mendalami ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) saya kaitkan kalimat dari film itu dengan beberapa materi dalam ilmu NLP.  Salah satunya adalah tentang submodality.  Sering kita gamang menuju masa depan, salah satu penyebabnya adalah masih saja kita membesarkan gambaran keterpurukan kita di masa lalu, di sisi yang lain kita malah mengecilkan gambaran sukses kita di masa yang akan datang.  setiap hari kita membawa-bawa gambaran-gambaran tersebut di dalam otak kita, maka apa yang terjadi ? semangat menjadi tidak menyala-nyala, badan bergerak tidak dengan membara, dan tentu perasaan pun akan ikut terbawa suasana nestapa.  Ingat pikiran dan badan adalah satu, maka buat selalu otak anda dalam kondisi fit dan suasana yang tetap menyenangkan.  Otak yang bernas, akal pun akan semakin cerdas, badan pun akan makin beringas mengerjakan beragam kebaikan juga mencapai impian dan harapan.
Dalam film itu diceritakan 5 orang sahabat yang berniat untuk membuat sesuatu yang luar biasa, maka puncak gunung Semeru-lah yang dijadikan sarana untuk itu.  Saat melihat puncak gunung yang tinggi itu, beberapa dari mereka mulai ragu.  Karena kebersamaan dalam sebuah persahabatan akhirnya mereka menjadi yakin, dan salah satu ucapan yang menyemangati mereka adalah kurang lebih seperti ini  "tempelkan impian itu di depan kening sedekat 5 cm, sehingga impian itu akan selalu melayang-layang di depan mata, juga mengguncangkan pikiran".  Di akhir film setelah melewati berbagai ujian, impian mereka menjadi kenyataan, mereka mampu melihat gugusan awan dari puncak Mahameru.
Hikmah dari film ini memang banyak sekali, mulai dari cinta tanah air yang alamnya begitu menakjubkan, arti sebuah persahabatan, dan yang paling saya garis bawahi adalah tentang keteguhan menggapai impian.  Membaca tulisan yang memotivasi untuk menggapai impian sudah sering sata lahap, namun dengan sebuah tayangan film yang bagus, sound yang jernih, musik yang menggelorakan, nuansa meraih impian itu terasa sekali.  Saya seolah terbawa suasana ikut mendaki puncak Mahameru.  Ilmu dari NLP adalah besarkan gambaran yang baik, kecilkan atau buramkan gambaran yang tidak bermanfaat, nah dari film ini saya memperoleh tambahan metode, yaitu tempelkan impian itu pada kening beberapa centi saja. Kini saya selain menuliskan dan menggambarkan impian dalam pikiran, juga menempelkan impian itu sedekat mungkin di kening ini. Mata ini memang terus melihat tempelan impian itu, maka ayo kita terus berikhtiar dengan maksimal, dibarengi doa pada Allah yang maha Kuasa ..... insya Allah kita mencapai kejayaan dan dicatat sebagai pahala kebaikan.

Rabu, 19 Desember 2012

Bukan Taman Biasa


Setiap sabtu saat memberikan materi di kampus itu, selalu saya lewati taman makam yang cukup padat penghuninya.  Pemandangan pusara yang indah dari kejauhan tampak rapi berjejeran. Pusara yang terpasang menandakan ada raga yang terkubur dan tergeletak tak berdaya.  Yang terkubur di sana tak berdaya apapun meski untuk mengusir rayap yang paling kecil sekalipun.  Di alam mereka yang sedang terkubur itu hanya amalan yang menemaninya.  Kegelisahan dan ketakutan buat mereka yang  selama hidupnya minim dengan amal kebaikan.  Ketenangan menyelimuti mereka yang  selama hidupnya optimal dengan amal kebaikan.  Pada pusara itu tertulis rapi nama penghuni makam, berikut tanggal mulai dan akhir hidupnya.  Betapa waktu menjadi sedemikian berharga buat mereka yang sudah tinggal di makam itu.  Sering saya melihat jejeran pusara itu di setiap sabtu, namun baru saat itu begitu terpikir bagaimana suasana mereka di alamnya yang baru. Meski jasad itu ada di tengah keramaian kota, hiruk pikuknya tak akan mungkin mereka nikmati.  Lupakan tayangan sinetron atau film tentang jasad yang kembali bergentayangan.  Selama waktu hiduplah kita masih bisa beraktifitas dengan segala suka citanya, namun saat sudah berakhir jatahnya maka raga ditinggal oleh sang nyawa.  Kini raga hanya teronggok dalam makam untuk dijadikan santapan binatang tanah yang kelaparan.
Di sekitar taman makam berseliweran orang-orang dengan segala aktifitasnya.  Pemandangan taman pusara mungkin hanya pemandangan biasa, tapi mungkin ada juga yang melihatnya sebagai peringatan yang sangat berharga.  Taman pusara itu kini mengingatkan akan  mahalnya sebuah kesempatan dan berharganya seperseribu detik kehidupan. Di taman pusara itu tertulis jatah waktu hidup, dan kita yang masih diberi waktu hanya tinggal menunggu saat antrian nyawa itu dicabut.  Siapkah atau tidak itu bukan untuk digunjingkan.  Bersiaplah setiap saat karena kita tidak tahu kapan malaikat maut itu menjemput.  Ayo optimalkan jatah waktu yang tersisa untuk memperbanyak bekal dengan segala amal kebaikan.

Selasa, 11 Desember 2012

pikiran nyaman - perasaan tenang

Aktifitas mengantar anak setiap hari kerja sambil pergi menuju kantor rutin saya lakukan.  Betapa mahalnya sebuah kegiatan ini dapat difahami setelah seorang rekan di jakarta begitu sangat menginginkan aktifitas itu dapat ia lakukan. Di Jakarta dengan kondisi kemacetan yang semakin parah, hal itu sangat tidak mungkin dilakukan.  Maka ketika akhirnya kembali ke Bandung dan serumah kembali dengan anak istri, aktifitas mengantar anak menjadi sebuah hal yang menyenangkan dan dilakoni dengan penuh kesyukuran.
Namun kadang muncul rasa jenuh, bukan karena mengantarnya tapi karena suasana di jalan menuju sekolah anak itu yang membuat bad mood.  Di sebuah jalan yang dilewati kereta api dan berdekatan dengan station kereta di kawasan Bandung timur, suasana pagi itu selalu semrawut.  Pengguna motor tidak mematuhi peraturan lalu lintas, seenaknya melawan arus jalan atau memutar jalan tak beraturan, semuanya ini menyebabkan kemacetan.  Belum ditambah dengan sopir angkot yang seenaknya juga berhenti mengambil dan menurunkan penumpang.
Solusi sudah difikirkan, diantaranya pergi lebih pagi namun bikin tak nyaman anak yang jadinya kedapatan masuk angin. Berusaha mencari jalan tikus tetap bermuara ke rel kereta. Sampai akhirnya dicoba jalan yang sedikit memutar ke arah pusat kota.  Ternyata suasananya lebih nyaman, meski tetap terjadi macet namun saya tidak lagi menyaksikan kelakuan orang yang terlalu kelewatan melanggar aturan di jalan.  Gambaran tiap hari yang terasa lebih nyaman saat mengantar anak menjadikan perasaan nyaman juga membuat fikiran tetap tenang.  Gambaran tiap hari memang harus diupayakan yang baik-baik saja yang dicerna otak karena itu mempengaruhi perasaan kita seharian.  Jika tiap hari diupayakan seperti ini maka bayangkan dalam sebulan ataupun setahun perasaan dan pikiran kita akan tetap terjaga kenyamanannya.  Produktifitas pun akan makin meningkat karena fungsi tubuh kita difungsikan dengan lebih efektif menuju kebahagiaan.