Aktifitas mengantar anak setiap hari kerja sambil pergi menuju kantor rutin saya lakukan. Betapa mahalnya sebuah kegiatan ini dapat difahami setelah seorang rekan di jakarta begitu sangat menginginkan aktifitas itu dapat ia lakukan. Di Jakarta dengan kondisi kemacetan yang semakin parah, hal itu sangat tidak mungkin dilakukan. Maka ketika akhirnya kembali ke Bandung dan serumah kembali dengan anak istri, aktifitas mengantar anak menjadi sebuah hal yang menyenangkan dan dilakoni dengan penuh kesyukuran.
Namun kadang muncul rasa jenuh, bukan karena mengantarnya tapi karena suasana di jalan menuju sekolah anak itu yang membuat bad mood. Di sebuah jalan yang dilewati kereta api dan berdekatan dengan station kereta di kawasan Bandung timur, suasana pagi itu selalu semrawut. Pengguna motor tidak mematuhi peraturan lalu lintas, seenaknya melawan arus jalan atau memutar jalan tak beraturan, semuanya ini menyebabkan kemacetan. Belum ditambah dengan sopir angkot yang seenaknya juga berhenti mengambil dan menurunkan penumpang.
Solusi sudah difikirkan, diantaranya pergi lebih pagi namun bikin tak nyaman anak yang jadinya kedapatan masuk angin. Berusaha mencari jalan tikus tetap bermuara ke rel kereta. Sampai akhirnya dicoba jalan yang sedikit memutar ke arah pusat kota. Ternyata suasananya lebih nyaman, meski tetap terjadi macet namun saya tidak lagi menyaksikan kelakuan orang yang terlalu kelewatan melanggar aturan di jalan. Gambaran tiap hari yang terasa lebih nyaman saat mengantar anak menjadikan perasaan nyaman juga membuat fikiran tetap tenang. Gambaran tiap hari memang harus diupayakan yang baik-baik saja yang dicerna otak karena itu mempengaruhi perasaan kita seharian. Jika tiap hari diupayakan seperti ini maka bayangkan dalam sebulan ataupun setahun perasaan dan pikiran kita akan tetap terjaga kenyamanannya. Produktifitas pun akan makin meningkat karena fungsi tubuh kita difungsikan dengan lebih efektif menuju kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar