Minggu, 03 Maret 2013

Jejak Bijak (1) : dibalik duka ada bahagia

Salah satu kegiatan yang saya suka adalah berbincang dengan teman yang punya prestasi.  Pengalaman hidup mereka penuh makna.  Bagaimana keputusannya, kegigihannya, lalu bagaimana menjalani langkah hidupnya sehingga sukses meraih impian. Itulah yang membuat saya bersemangat menggali kisah mereka lalu diambil hikmah yang bisa didapat yang insya Allah bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun juga untuk rekan yang lainnya. Untuk itu saya beri judul untuk tulisan ini dengan seri Jejak Bijak, menggali hikmah dengan bijak dari penggalan kisah hidup para sahabat.
Untuk kisah pertama saya gali dari seorang rekan yang masih muda yang punya segudang prestasi terutama dalam bidang penulisan, sebutlah namanya Ani.  Obrolan dengan sang tokoh bernama Ani ini memang berlangsung singkat dan padat namun banyak hikmah yang tersingkap.  Mengajar di sebuah sekolah merupakan profesi dambaan orang tuanya dan belakangan pun menjadi pilihan hatinya. Sebuah Sekolah Dasar kemudian menjadi tempatnya berkiprah dalam bidang pengajaran ini.  Sambil mengajar Ani pun berkesempatan dengan biaya sendiri melanjutkan pendidikan di sebuah Universitas yang memiliki kelas karyawan.  Kabar tentang keputusannya melanjutkan kuliah di Universitas itu ternyata menjadi pemicu konflik antara dirinya dan pihak sekolah dasar.  Sampai akhirnya Ani dibebastugaskan oleh pihak sekolah sebagai pengajar.  Berat dan sedih hatinya mendapatkan perlakuan ini.  Namun Ani mencurahkan nasibnya hanya pada Allah yang Maha Pengatur kehidupan.  "Jika hal ini memang baik akan tetap saya jalani karena Allah pasti memberikan yang terbaik buat hamba-Nya" itu kalimat yang terucap dari Ani saat terluka hatinya menerima perlakuan tersebut.  Waktu pun berlalu, Ani ternyata tetap dikenang oleh para siswanya.  Sampai pada suatu hari, melalui salah satu siswanya, ada penawaran kerja dari sebuah perusahaan untuk sebuah posisi yang betul-betul di luar dugaan Ani.  Posisi itu adalah salah satu impian Ani yang sudah lama diidamkannya, tawaran itu akhirnya diterima dengan jumlah penghasilan yang lebih besar dari posisinya sebagai pengajar di sekolah dasar itu. 
Kisah berikutnya masih dari cerita Ani. Beberapa tahun Ani pernah mengajar di sebuah SMU dan memperoleh banyak pengalaman berharga sehingga jadi lebih memahami dunia remaja.  Sampai pada suatu hari, pihak sekolah dengan berat hati mencoret namanya dari daftar guru honorer di sekolah itu karena ada famili pejabat yang akan masuk sebagai guru.  Di kala Ani menikmati menjadi pengajar di sekolah itu, lagi-lagi dia harus menghadapi perlakuan yang sangat tidak adil.  Kembali dia hanya mencurahkan rasa sedihnya itu hanya pada Tuhan, dan Ani sangat yakin bahwa bakal ada sesuatu yang lebih berharga yang akan dia terima jika dia mampu menerima cobaan ini dengan sabar dan tawakal.  Dan ternyata keyakinannya itu terbukti, tidak lama setelah itu Ani mendapatkan sebuah pekerjaan yang memiliki nilai pengalaman yang lebih bagus dan tentu memiliki sisi ekonomis yang lebih baik.  Dengan rasa syukur Ani menerima dan menjalani pekerjaan itu dengan penuh arti.  Saat pertemuan dengan Ani akan diakhiri, kami yang mendengar perbincangan Ani sepakat bahwa  dibalik sebuah duka itu terkandung bahagia. Tinggal kita saja yang menghadapinya apakah melihat sebuah cobaan dari sisi duka atau dari sisi bahagia. Maka hikmah yang didapat dari kisah Ani di atas adalah apapun itu yang terjadi serahkan saja pada Allah yang maha Pengatur, apapun itu pasti adalah untuk sebuah kebaikan, berawal duka namun berakhir bahagia, nikmati saja prosesnya.  Itulah kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar