Kisah hidup berikutnya adalah menggali pengalaman dari seorang sahabat yang memiliki jiwa ulet dan terlihat mapan di usianya yang masih muda. Perbincangan berlangsung saat perjalanan dari Jakarta ke Bandung di Cipularang. Sebutlah nama sahabat saya ini Arman. Arman menceritakan pengalamannya yang pertama saat dia masih aktif ngajar di sebuah kursus di Jakarta. Setelah lulus dari Sekolah Tinggi yang memiliiki ikatan dinas itu menjadikannya memiliki kemampuan di bidang Akuntansi. Mengajar bukan hanya untuk mencari nafkah tambahan namun selain itu adalah untuk menambah relasi dan sahabat. Honor berupa uang yang berhak diterima Arman akan diterima sehabis mengajar. Pada hari itu di saat selesai mengajar, Arman mendapat kabar bahwa honornya belum bisa dibayarkan dan akan segera ditransfer di hari berikutnya. Arman tentu saja tidak menaruh curiga dan mengiyakan saja permintaan lembaga pelatihan itu. Sampai akhirnya setelah seminggu berlalu, Arman masih belum memperoleh kabar tentang honornya lalu Arman coba menghubungi pihak lembaga pelatihan. Ternyata Lembaga Pelatihan itu sudah tutup dan tidak memberikan keterangan pihak mana yang harus bertanggung jawab atas pembayaran honor yang seharusnya Arman terima. Rasa kecewa menyelimuti Arman, karena dia sudah berjanji pada istrinya akan memberikan seluruh honor itu untuk sebuah keperluan. Akhirnya dia sampaikan pada istrinya tentang hal itu, dan tentu saja istrinya pun merasakan kekecewaan yang sama. Saat itu Arman mengatakan untuk tetap sabar saja menerima kejadian ini. Arman kemudian melanjutkan kisahnya bahwa buah kesabaran dari kejadian itu adalah tiba-tiba dia dihubungi oleh salah satu siswanya yang mengajaknya bekerjasama untuk gabung di perusahaannya dalam pengerjaan sistem akuntansi perusahaannya. Sang mantan siswa itu ternyata memberikan pula penghasilan dan beberapa kebaikan lainnya kepada Arman sampai saat ini.
Kejadian kedua masih dari penggalan pengalaman hidupnya Arman adalah ketika dia membeli sebidang tanah dari seorang kolega yang bisa dipercaya. Namun tak disangka dan diduga, ternyata tanah itu tanah sengketa. Uang puluhan juta yang telah dia bayarkan jadi hilang dan tak jelas rimbanya karena ulah si kolega. Kasus pengkhianatan ini pun dihadapi Arman dengan tetap bersabar saja, jika diadukan ke kepolisian pun akan tidak menyelesaikan masalah pikirnya. Uang yang sudah menguap itu tidak perlu terus diingat karena akan menambah sakit hati, serahkan saja semuanya pada Allah, itulah ketetapan hatinya sehingga kuat menghadapi kasus ini. Waktu pun terus bergulir, sampai akhirnya sejumlah uang yang hampir dilupakan itu ternyata kembali dibayarkan oleh pihak keluarga sang kolega. Saat uang itu dikembalikan, Arman sedang membuka kegiatan bisnis barunya, dan tentu saja uang ini sangat membantu. Sampai akhirnya kegiatan bisnisnya lancar dan mampu menghasilkan keuntungan yang besar.
Dua kali dikhianati, ternyata jika dinikmati dengan penuh kesabaran dan ketawakalan, sesuatu yang tadinya hilang itu kini diganti dengan jumlah yang lebih berarti. Begitulah hikmah dari kisah Arman bahwa dengan dengan bersabar kita akan memperoleh kebahagiaan yang lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar