Memanggil seseorang dengan sebuah
panggilan memiliki makna dan tujuan.
Panggilan yang umum digunakan adalah bapak, ibu, mas atau mba serta
panggilan lainnya. Saya pernah dipanggil tuan namun ada kesan saya adalah
majikan pria yang punya pasangan nyonya.
Seorang suami yang memanggil istrinya dengan panggilan cantik, honey,
yayang atau panggilan indah lainnya itu pertanda dia adalah suami yang
menyayangi pasangannya. Sering kita
dengar ayah ibu yang memanggil anak-anaknya dengan sebutan yang tidak pantas,
pertanda mereka mematikan jiwa & keceriaan anak-anak mereka. Untuk seorang yang sangat terhormat, biasa
kita dengar panggilan yang mulia. Tentu
saja untuk komunitas trainer laris, kita perlu memanggil sesama rekan kita
dengan panggilan “yang sukses dan mulia” sesuai jargonnya guru kita Jamil
Azzaini. Panggilan memiliki begitu
banyak manfaat dalam pergaulan antar manusia.
Dilarang kita membuat panggilan yang berisi ejekan atau bahkan
melecehkan. Berilah panggilan terindah, panggilan terbaik juga panggilan
terasyik untuk siapapun dia
Cerita berikut ini dapat menjadi
bukti betapa sebuah panggilan memiliki kesan mendalam bagi seseorang. Saya memiliki sahabat sebut saja namanya
Wawan, dia adalah pegawai kantor pajak yang
bertugas sebagai juru sita pajak di sebuah kota di Jawa Barat. Tugas Juru Sita Pajak adalah menagih hutang
pajak para Wajib Pajak. Wawan menghadapi
sebuah kendala dimana ada seorang Wajib Pajak, sebutlah namanya Pak Dadang yang
memiliki jumlah hutang pajak yang cukup besar namun masih belum mau untuk
membayar hutang pajaknya. Telah
dilakukan berbagai upaya namun masih juga belum menampakan hasil. Sampai akhirnya setelah mengamati budaya
setempat dan tanya sana sini tentang profil pak Dadang, Wawan menemukan cara lain yang kelihatannya sangat
layak untuk dicoba. Pada hari berikutnya Wawan mendatangi pak Dadang di lokasi
usahanya. Dengan pendekatan komunikasi yang akrab Wawan diterima dengan baik,
malah setelah itu hubungan dengan pak Dadang terasa lebih erat dan akrab. Mengetahui bahwa Pak Dadang adalah tokoh
terkenal di kampungnya, Wawan pun memberikan penghormatan yang tulus dan
mengapresiasi kiprahnya di masyarakat. Pembicaraan
pun mengalir dalam suasana yang akrab dan menyenangkan, sampai akhirnya pak Dadang
mau membayar hutang pajaknya dengan rela tanpa banyak komentar ataupun
penundaan. Wawan girang karena dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Lalu
apa rahasianya sehingga Wawan berhasil meyakinkan pak Dadang mau membayar
hutang pajaknya. Ternyata salah satu
kunci suksesnya adalah dengan sebuah panggilan yang memang di daerah tersebut
dapat diartikan sebagai sebuah penghormatan kepada tokoh yang sukses dan punya
banyak pengaruh. Panggilan yang digunakan Wawan untuk memanggil
pak Dadang adalah “kang haji”. Panggilan
ini ternyata sangat mempengaruhi perasaan pak Dadang, yang merasa sangat
dihargai, dihormati dan juga disegani.
Cerita Wawan teman saya yang juru
sita pajak itu menginspirasi saya untuk selalu memberikan panggilan yang tulus
kepada seseorang siapapun itu. Jika
ingat pesan guru kita Jamil Azzaini bahwa sebuah energi positif yang ditebarkan
itu akan kembali positif kepada yang menebarkannya, maka saya yakin bahwa
sapaan atau panggilan yang tulus untuk menghormati orang lain juga merupakan
energi positif yang akan kembali positif kepada kita yang mengucapkannya. Jadi,
sapalah atau panggilah siapapun itu dengan panggilan terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar