Selasa, 09 Oktober 2012

Panggilan itu Penghormatan

Memanggil seseorang dengan sebuah panggilan memiliki makna dan tujuan.  Panggilan yang umum digunakan adalah bapak, ibu, mas atau mba serta panggilan lainnya. Saya pernah dipanggil tuan namun ada kesan saya adalah majikan pria yang punya pasangan nyonya.  Seorang suami yang memanggil istrinya dengan panggilan cantik, honey, yayang atau panggilan indah lainnya itu pertanda dia adalah suami yang menyayangi pasangannya.  Sering kita dengar ayah ibu yang memanggil anak-anaknya dengan sebutan yang tidak pantas, pertanda mereka mematikan jiwa & keceriaan anak-anak mereka.  Untuk seorang yang sangat terhormat, biasa kita dengar panggilan yang mulia.  Tentu saja untuk komunitas trainer laris, kita perlu memanggil sesama rekan kita dengan panggilan “yang sukses dan mulia” sesuai jargonnya guru kita Jamil Azzaini.  Panggilan memiliki begitu banyak manfaat dalam pergaulan antar manusia.  Dilarang kita membuat panggilan yang berisi ejekan atau bahkan melecehkan. Berilah panggilan terindah, panggilan terbaik juga panggilan terasyik untuk siapapun dia
Cerita berikut ini dapat menjadi bukti betapa sebuah panggilan memiliki kesan mendalam bagi seseorang.  Saya memiliki sahabat sebut saja namanya Wawan, dia adalah pegawai kantor pajak  yang bertugas sebagai juru sita pajak di sebuah kota di Jawa Barat.  Tugas Juru Sita Pajak adalah menagih hutang pajak para Wajib Pajak.  Wawan menghadapi sebuah kendala dimana ada seorang Wajib Pajak, sebutlah namanya Pak Dadang yang memiliki jumlah hutang pajak yang cukup besar namun masih belum mau untuk membayar hutang pajaknya.  Telah dilakukan berbagai upaya namun masih juga belum menampakan hasil.  Sampai akhirnya setelah mengamati budaya setempat dan tanya sana sini tentang profil pak Dadang,  Wawan menemukan cara lain yang kelihatannya sangat layak untuk dicoba. Pada hari berikutnya Wawan mendatangi pak Dadang di lokasi usahanya. Dengan pendekatan komunikasi yang akrab Wawan diterima dengan baik, malah setelah itu hubungan dengan pak Dadang terasa lebih erat dan akrab.  Mengetahui bahwa Pak Dadang adalah tokoh terkenal di kampungnya, Wawan pun memberikan penghormatan yang tulus dan mengapresiasi kiprahnya di masyarakat.   Pembicaraan pun mengalir dalam suasana yang akrab dan menyenangkan, sampai akhirnya pak Dadang mau membayar hutang pajaknya dengan rela tanpa banyak komentar ataupun penundaan.  Wawan girang karena dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.  Lalu apa rahasianya sehingga Wawan berhasil meyakinkan pak Dadang mau membayar hutang pajaknya.  Ternyata salah satu kunci suksesnya adalah dengan sebuah panggilan yang memang di daerah tersebut dapat diartikan sebagai sebuah penghormatan kepada tokoh yang sukses dan punya banyak pengaruh.   Panggilan yang digunakan Wawan untuk memanggil pak Dadang adalah “kang haji”.  Panggilan ini ternyata sangat mempengaruhi perasaan pak Dadang, yang merasa sangat dihargai, dihormati dan juga disegani.
Cerita Wawan teman saya yang juru sita pajak itu menginspirasi saya untuk selalu memberikan panggilan yang tulus kepada seseorang siapapun itu.  Jika ingat pesan guru kita Jamil Azzaini bahwa sebuah energi positif yang ditebarkan itu akan kembali positif kepada yang menebarkannya, maka saya yakin bahwa sapaan atau panggilan yang tulus untuk menghormati orang lain juga merupakan energi positif yang akan kembali positif kepada kita yang mengucapkannya. Jadi, sapalah atau panggilah siapapun itu dengan panggilan terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar