Aktifitas mengantar anak setiap hari kerja sambil pergi menuju kantor rutin saya lakukan. Betapa mahalnya sebuah kegiatan ini dapat difahami setelah seorang rekan di jakarta begitu sangat menginginkan aktifitas itu dapat ia lakukan. Di Jakarta dengan kondisi kemacetan yang semakin parah, hal itu sangat tidak mungkin dilakukan. Maka ketika akhirnya kembali ke Bandung dan serumah kembali dengan anak istri, aktifitas mengantar anak menjadi sebuah hal yang menyenangkan dan dilakoni dengan penuh kesyukuran.
Namun kadang muncul rasa jenuh, bukan karena mengantarnya tapi karena suasana di jalan menuju sekolah anak itu yang membuat bad mood. Di sebuah jalan yang dilewati kereta api dan berdekatan dengan station kereta di kawasan Bandung timur, suasana pagi itu selalu semrawut. Pengguna motor tidak mematuhi peraturan lalu lintas, seenaknya melawan arus jalan atau memutar jalan tak beraturan, semuanya ini menyebabkan kemacetan. Belum ditambah dengan sopir angkot yang seenaknya juga berhenti mengambil dan menurunkan penumpang.
Solusi sudah difikirkan, diantaranya pergi lebih pagi namun bikin tak nyaman anak yang jadinya kedapatan masuk angin. Berusaha mencari jalan tikus tetap bermuara ke rel kereta. Sampai akhirnya dicoba jalan yang sedikit memutar ke arah pusat kota. Ternyata suasananya lebih nyaman, meski tetap terjadi macet namun saya tidak lagi menyaksikan kelakuan orang yang terlalu kelewatan melanggar aturan di jalan. Gambaran tiap hari yang terasa lebih nyaman saat mengantar anak menjadikan perasaan nyaman juga membuat fikiran tetap tenang. Gambaran tiap hari memang harus diupayakan yang baik-baik saja yang dicerna otak karena itu mempengaruhi perasaan kita seharian. Jika tiap hari diupayakan seperti ini maka bayangkan dalam sebulan ataupun setahun perasaan dan pikiran kita akan tetap terjaga kenyamanannya. Produktifitas pun akan makin meningkat karena fungsi tubuh kita difungsikan dengan lebih efektif menuju kebahagiaan.
Selasa, 11 Desember 2012
Sabtu, 17 November 2012
sadar dan waras
Salah satu kelebihan manusia dibanding mahluk lainnya adalah manusia dianugerahi otak & kecerdasan. Otak & kecerdasan berperan besar dalam perkembangan peradaban manusia. Manusia zaman batu dulu hanya mengenal teknologi sederhana misalnya pemukul batu untuk memburu binatang. Kini dengan berbagai kemajuan teknologi, banyak alat yang telah diciptakan untuk berbagai kebutuhan. Itu salah satu pemanfaatan otak dengan baik.
Namun di pihak lain, banyak orang yang tidak menggunakan otaknya dengan cerdas dan waras. Kelakuan beberapa manusia malah menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun. Berbagai tragedi kemanusiaan membuktikan betapa kesadaran dan kewarasan manusia tunduk di bawah dorongan nafsu buruknya. Sebagai manusia yang masih merasa waras, kita perlu cerdas mengamati hidup dan kehidupan ini. Memang otak yang dianugrahkan tidak memiliki manual book bagaimana menggunakannya dengan baik. Namun tentu saja kita pun diberikan kecerdasan bagaimana menjalani hidup dengan indah karena mengoptimalkan fungsi otak.
Salah satu cara sederhana menggunakan otak adalah menyadari apapun yang sedang kita lakukan, dan apa yang akan kita kerjakan. Hindari mengerjakan sesuatu namun kita tidak dengan full melakukannya. Badan dan fikiran tidak seiring sejalan, Akibatnya kita tidak menikmatinya dengan baik, maka hasilnyapun tidak begitu memuaskan. Saat di rumah terbayang kerjaan di kantor, atau saat di kantor terbayang masalah di rumah. Maka cara pertama untuk mengerjakan sesuatu itu dengan baik adalah sadari bahwa anda sedang melakukan sesuatu tersebut, setelah itu barulah kita kerjakan pekerjaan yang lain dengan lebih baik. Jika keadaan ini dibiarkan terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan kondisi drop akan dialami. saat pikiran dihadapkan pada satu kondisi yang dilematis, sedangkan ilmu untuk mengarahkan pada solusi yang lebih baik tidak dimiliki, maka pikiran manusia akan mengalami ketegangan atau biasa disebut sebagai stress. Maka sadarlah anda dengan kondisi yang dihadapi, bertanggungjawablah atas putusan yang telah diambil, serta waraslah jika kita adalah manusia sempurna yang dianugrahi otak dan kecerdasan. Kehidupan kita pun akan menjadi indah karena kita sadar dan waras bahwa kita selalu hadir dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Maka sadarlah dan tetaplah waras.... be present !
Namun di pihak lain, banyak orang yang tidak menggunakan otaknya dengan cerdas dan waras. Kelakuan beberapa manusia malah menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun. Berbagai tragedi kemanusiaan membuktikan betapa kesadaran dan kewarasan manusia tunduk di bawah dorongan nafsu buruknya. Sebagai manusia yang masih merasa waras, kita perlu cerdas mengamati hidup dan kehidupan ini. Memang otak yang dianugrahkan tidak memiliki manual book bagaimana menggunakannya dengan baik. Namun tentu saja kita pun diberikan kecerdasan bagaimana menjalani hidup dengan indah karena mengoptimalkan fungsi otak.
Salah satu cara sederhana menggunakan otak adalah menyadari apapun yang sedang kita lakukan, dan apa yang akan kita kerjakan. Hindari mengerjakan sesuatu namun kita tidak dengan full melakukannya. Badan dan fikiran tidak seiring sejalan, Akibatnya kita tidak menikmatinya dengan baik, maka hasilnyapun tidak begitu memuaskan. Saat di rumah terbayang kerjaan di kantor, atau saat di kantor terbayang masalah di rumah. Maka cara pertama untuk mengerjakan sesuatu itu dengan baik adalah sadari bahwa anda sedang melakukan sesuatu tersebut, setelah itu barulah kita kerjakan pekerjaan yang lain dengan lebih baik. Jika keadaan ini dibiarkan terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan kondisi drop akan dialami. saat pikiran dihadapkan pada satu kondisi yang dilematis, sedangkan ilmu untuk mengarahkan pada solusi yang lebih baik tidak dimiliki, maka pikiran manusia akan mengalami ketegangan atau biasa disebut sebagai stress. Maka sadarlah anda dengan kondisi yang dihadapi, bertanggungjawablah atas putusan yang telah diambil, serta waraslah jika kita adalah manusia sempurna yang dianugrahi otak dan kecerdasan. Kehidupan kita pun akan menjadi indah karena kita sadar dan waras bahwa kita selalu hadir dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Maka sadarlah dan tetaplah waras.... be present !
Senin, 05 November 2012
Bacaan anda makanan jiwa
Raga butuh
makanan yang baik dan bergizi, badan pun sehat, segar, dan bugar.
Jiwa butuh pula makanan yang membuat kita
tetap optimis, bersyukur, tetap ceria, dan selalu ingat pada Yang Maha Kuasa.
Jagalah fikiran anda
dari hal-hal negatif yang merongrong jiwa.
Banyak cara untuk itu,
satu diantaranya adalah bacalah tulisan bermutu dan penuh makna.
Membaca bacaan sampah, fikiran tergiring ke
tempat pembuangan sampah yang penuh masalah.
Membaca bacaan jorok membuat fikiran menjadi
ngorok dan malas berzikir
Membaca bacaan setan menggerogoti fikiran karena dipenuhi virus pembunuh ketauhidan.
Bacalah bacaan yang membuat jiwa tetap sehat
Bacalah bacaan yang membuat batin menjadi qolbun
salim
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Selasa, 30 Oktober 2012
Andai bisa ditangguhkan
Jika mendengar kata penangguhan atau penundaan maka bisa beragam
respon yang muncul. Bisa kecewa ataupun bikin perasaan jadi lega.
Kita ambil contoh Anak-anak SMU yang akan menghadapi test dari gurunya
tiba-tiba mendapat kabar ditunda karena sang guru harus rapat dengan kepala
sekolah. Banyak siswa yang bersorak girang karena pelaksanaan test
ditangguhkan, ada juga yang kecewa karena mereka ingin segera melewati
ujian. Calon penumpang pesawat tentu kecewa dengan penundaan
keberangkatan karena mereka harus menunggu lebih lama.
Dalam istilah Akuntansi dikenal istilah Pajak Tangguhan, sebuah
perkiraan untuk mengakomodir adanya perbedaan penerapan antara ketentuan
Akuntansi dengan aturan perpajakan dalam hal penghitungan pajak
penghasilan. Materi Pajak Tangguhan biasanya disampaikan pada mata kuliah
Akuntansi Pajak. Sebagai pengajar Akuntansi Pajak saya pun sering menyampaikan
materi Pajak Tangguhan, sehingga ketika mengajar materi ini pun mengalir
seperti biasa saja. Sampai satu saat, materi pajak tangguhan menjadi
begitu berkesan sangat mendalam. Apa yang menyebabkan sesi itu menjadi
sangat berkesan, kita simak paragraf berikutnya.
Malam itu saya memberikan materi pajak tangguhan di depan peserta
kursus brevet pajak ternama di Bandung sampai sekitar pukul 21.00. Saya
ambil photo para peserta selama di kelas karena itu adalah materi di hari
terakhir. Keesokan harinya seperti biasa, saya pun melakukan aktifitas di
kantor. Tiba-tiba telepon masuk ke handphone rupanya dari petugas admin
kursus pajak dimana saya mengajar semalam. Isi beritanya cukup
mencengangkan. Salah satu peserta yang tadi malam masih mengikuti kursus,
pada pukul 5 pagi meninggal dunia. Sungguh ini sangat mengagetkan,
kemudian saya teringat photo-photo yang malam itu saya ambil, dan semua tampak
berjalan biasa saja tidak ada firasat ataupun keanehan. Setelah merenung
beberapa saat, saya memperoleh hikmah kehidupan. Kita semua faham bahwa
ujian sekolah bisa ditangguhkan, jadwal keberangkatan bisa terjadi penundaan,
dalam akuntansi pun ada istilah pajak tangguhan. Namun, jika berkaitan
dengan usia maka itu tidak akan pernah ada penangguhan atau penundaan.
Jika memang malaikat maut sudah turun, maka tak akan ada penundaan
sedetikpun. Bijaklah memanfaatkan waktu, karena jika sudah berlalu, dia
tak akan pernah bisa diulang seperti lagu. Bijaklah mengarungi kehidupan,
penuhilah dengan kemanfaatan dan kebaikan, agar cukup perbekalan kita di hari
pembalasan.
Selasa, 16 Oktober 2012
cinta sepanjang masa
Cerita berikut menjadi gambaran betapa pasangan adalah harta yang paling berharga selama kita hidup, karena akan mendampingi kita dalam suka maupun duka, dalam keadaan sakit maupun sehat, dan tentu saja dalam keadaan kaya ataupun miskin sekalipun.
Saat duduk di teras rumah sore hari, pasangan kakek nenek itu tampak bahagia. Cinta yang mereka pupuk dari muda kini tetap segar dan membara. Sang kakek mulai berucap pada sang nenek, "masih ingat gak, dulu saya pernah menyatakan ABCDEFG pada mu ...."
Sang nenek mengingat sejenak, lalu berucap, " ah itu sudah kuno, coba cari yang baru ... masih ingat sih, A Boy Can Do Everything For the Girl, sambil tersipu.
Giliran si nenek yang berucap, "masih ingat gak, saat kita sama-sama sukses, aku juga punya singkatan bagus HIJKL"
Si kakek mulai mengingat singkatan itu, "ah iya ingat dong, Hopefully, I Just Keep Loving you"
Keduanya pun tertawa bersama, lalu tiba-tiba si kakek menanyakan singkatan baru, "oh iya aku punya singkatan baru, kan tadi katanya sudah kuno itu ABCDEFG-nya"
Nenek pun langsung tertarik, karena sang kakek memang perayu ulung, " apa itu mas, singkatannya ?"
Kakek dengan mantap menjawab," kamu itu, Amazing, Beautiful, Cute, Dynamic, Elegant, Fantastic, Good, Humble ....... "
Nenek gak sabar. " lalu IJK-nya apa dong ?" sambil tersenyum cerah
Kakek melanjutkan sambil tersenyum," I am Just Kidding"
Sang kakek pun kabur, karena melihat si nenek mulai memerah mukanya.
Saat duduk di teras rumah sore hari, pasangan kakek nenek itu tampak bahagia. Cinta yang mereka pupuk dari muda kini tetap segar dan membara. Sang kakek mulai berucap pada sang nenek, "masih ingat gak, dulu saya pernah menyatakan ABCDEFG pada mu ...."
Sang nenek mengingat sejenak, lalu berucap, " ah itu sudah kuno, coba cari yang baru ... masih ingat sih, A Boy Can Do Everything For the Girl, sambil tersipu.
Giliran si nenek yang berucap, "masih ingat gak, saat kita sama-sama sukses, aku juga punya singkatan bagus HIJKL"
Si kakek mulai mengingat singkatan itu, "ah iya ingat dong, Hopefully, I Just Keep Loving you"
Keduanya pun tertawa bersama, lalu tiba-tiba si kakek menanyakan singkatan baru, "oh iya aku punya singkatan baru, kan tadi katanya sudah kuno itu ABCDEFG-nya"
Nenek pun langsung tertarik, karena sang kakek memang perayu ulung, " apa itu mas, singkatannya ?"
Kakek dengan mantap menjawab," kamu itu, Amazing, Beautiful, Cute, Dynamic, Elegant, Fantastic, Good, Humble ....... "
Nenek gak sabar. " lalu IJK-nya apa dong ?" sambil tersenyum cerah
Kakek melanjutkan sambil tersenyum," I am Just Kidding"
Sang kakek pun kabur, karena melihat si nenek mulai memerah mukanya.
Selasa, 09 Oktober 2012
Panggilan adalah Sebuah Pengakuan
Dalam kehidupan sehari-hari panggilan bapak atau ibu
mungkin dianggap biasa saja, begitu pula Mr. atau Mrs. Panggilan itu
mengalir begitu saja dan kita tak mungkin membuat kesalahan ketika
menggunakan panggilan itu. Sampai pada suatu saat, makna sebuah
panggilan itu menjadi sangat berarti ketika saya menghadapi sebuah
kejadian di tempat kerja saya yang dulu. Beberapa tahun lalu saya sempat
bekerja di sebuah hotel berbintang empat di Bandung, pada malam itu
saya bertugas shift malam dan agak surprise karena ada tamu selebritis
papan atas yang check in ke hotel kami. Saat check in itulah saya
memberikan kunci kamar dan kartu kamarnya. Semua berjalan seperti biasa
dan saya lakukan sesuai SOP, namun telepon kemudian berdering. "Mas !
anda yang melayani saya check in kan ? " katanya. Saya menjawab benar
bahwa saya yang melayani artis tersebut. "Hei mas ! kerja yang betul
dong, lihat itu di kartu registrasi, ada yang salah itu, lihat yang
betul ya ! sambungnya. Saya berusaha mencari apa kesalahan itu, namun
sepertinya semua sudah betul dan tak ada yang keliru. Karena kelamaan
sang artis mulai tambah marah, "lihat itu MISTER..... itu salah mas,
saya bukan Mister saya Mrs.". Dug, jantung saya seolah berhenti
berdebar, karena kesalahan penyebutan memang menjadi sangat sensitif
bagi artis itu. Akhirnya saya langsung mengucap maaf kepadanya, "mohon
maaf BU ! sudah saya perbaiki. Saya beruntung artis itu tidak
terus-terusan marah, coba bayangkan jika saat mengucap maaf itu pun
salah lagi, pasti tambah marah artis ibukota itu. Lalu anda mungkin
bertanya, siapa sih artis itu, yang salah mister saja begitu marahnya.
Beliau adalah Dorce Gamalama. Anda tentu faham kenapa beliau sampai
marah seperti itu.
Kejadian itu betul-betul menyadarkan saya akan pentingnya sebuah panggilan yang benar. Jika kita ambil contoh lain, seorang yang ingin merasa muda tentu ingin dipanggil mba atau teteh dibanding dipanggil dengan panggilan ibu. Saya juga punya teman yang lebih nyaman dipanggil mas ketimbang dipanggil bapak. Apapun itu begitulah panggilan. Panggilan ternyata bukan hanya untuk memanggil seseorang. Panggilan juga merupakan sebuah pengakuan. Pengakuan akan sebuah jati diri yang diharapkannya. Jadi berhati-hatilah menggunakan nama panggilan.
Kejadian itu betul-betul menyadarkan saya akan pentingnya sebuah panggilan yang benar. Jika kita ambil contoh lain, seorang yang ingin merasa muda tentu ingin dipanggil mba atau teteh dibanding dipanggil dengan panggilan ibu. Saya juga punya teman yang lebih nyaman dipanggil mas ketimbang dipanggil bapak. Apapun itu begitulah panggilan. Panggilan ternyata bukan hanya untuk memanggil seseorang. Panggilan juga merupakan sebuah pengakuan. Pengakuan akan sebuah jati diri yang diharapkannya. Jadi berhati-hatilah menggunakan nama panggilan.
Panggilan itu Penghormatan
Memanggil seseorang dengan sebuah
panggilan memiliki makna dan tujuan.
Panggilan yang umum digunakan adalah bapak, ibu, mas atau mba serta
panggilan lainnya. Saya pernah dipanggil tuan namun ada kesan saya adalah
majikan pria yang punya pasangan nyonya.
Seorang suami yang memanggil istrinya dengan panggilan cantik, honey,
yayang atau panggilan indah lainnya itu pertanda dia adalah suami yang
menyayangi pasangannya. Sering kita
dengar ayah ibu yang memanggil anak-anaknya dengan sebutan yang tidak pantas,
pertanda mereka mematikan jiwa & keceriaan anak-anak mereka. Untuk seorang yang sangat terhormat, biasa
kita dengar panggilan yang mulia. Tentu
saja untuk komunitas trainer laris, kita perlu memanggil sesama rekan kita
dengan panggilan “yang sukses dan mulia” sesuai jargonnya guru kita Jamil
Azzaini. Panggilan memiliki begitu
banyak manfaat dalam pergaulan antar manusia.
Dilarang kita membuat panggilan yang berisi ejekan atau bahkan
melecehkan. Berilah panggilan terindah, panggilan terbaik juga panggilan
terasyik untuk siapapun dia
Cerita berikut ini dapat menjadi
bukti betapa sebuah panggilan memiliki kesan mendalam bagi seseorang. Saya memiliki sahabat sebut saja namanya
Wawan, dia adalah pegawai kantor pajak yang
bertugas sebagai juru sita pajak di sebuah kota di Jawa Barat. Tugas Juru Sita Pajak adalah menagih hutang
pajak para Wajib Pajak. Wawan menghadapi
sebuah kendala dimana ada seorang Wajib Pajak, sebutlah namanya Pak Dadang yang
memiliki jumlah hutang pajak yang cukup besar namun masih belum mau untuk
membayar hutang pajaknya. Telah
dilakukan berbagai upaya namun masih juga belum menampakan hasil. Sampai akhirnya setelah mengamati budaya
setempat dan tanya sana sini tentang profil pak Dadang, Wawan menemukan cara lain yang kelihatannya sangat
layak untuk dicoba. Pada hari berikutnya Wawan mendatangi pak Dadang di lokasi
usahanya. Dengan pendekatan komunikasi yang akrab Wawan diterima dengan baik,
malah setelah itu hubungan dengan pak Dadang terasa lebih erat dan akrab. Mengetahui bahwa Pak Dadang adalah tokoh
terkenal di kampungnya, Wawan pun memberikan penghormatan yang tulus dan
mengapresiasi kiprahnya di masyarakat. Pembicaraan
pun mengalir dalam suasana yang akrab dan menyenangkan, sampai akhirnya pak Dadang
mau membayar hutang pajaknya dengan rela tanpa banyak komentar ataupun
penundaan. Wawan girang karena dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Lalu
apa rahasianya sehingga Wawan berhasil meyakinkan pak Dadang mau membayar
hutang pajaknya. Ternyata salah satu
kunci suksesnya adalah dengan sebuah panggilan yang memang di daerah tersebut
dapat diartikan sebagai sebuah penghormatan kepada tokoh yang sukses dan punya
banyak pengaruh. Panggilan yang digunakan Wawan untuk memanggil
pak Dadang adalah “kang haji”. Panggilan
ini ternyata sangat mempengaruhi perasaan pak Dadang, yang merasa sangat
dihargai, dihormati dan juga disegani.
Cerita Wawan teman saya yang juru
sita pajak itu menginspirasi saya untuk selalu memberikan panggilan yang tulus
kepada seseorang siapapun itu. Jika
ingat pesan guru kita Jamil Azzaini bahwa sebuah energi positif yang ditebarkan
itu akan kembali positif kepada yang menebarkannya, maka saya yakin bahwa
sapaan atau panggilan yang tulus untuk menghormati orang lain juga merupakan
energi positif yang akan kembali positif kepada kita yang mengucapkannya. Jadi,
sapalah atau panggilah siapapun itu dengan panggilan terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)